PP PEWARNA INDONESIA LANTIK PD Jabar Pewarna Indonesia


REFORMATANEWS.COM, Bekasi - Jumat (26/02) bertempat di RM Pondok Kenanga, Pengurus Pusat (PP) Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia melantik Kepengurusan Daerah (PD) Jawa Barat. Acara dimulai pukul 10.00 dibuka oleh Kepala Kesbangpol Kota Bekasi Cecep Suherlan yang hadir mewakili Walikota Bekasi DR. H. Rahmat Effendi yang mendadak berhalangan hadir mengucapkan selamat untuk kepengurusan daerah Jawa Barat Pewarna Indonesia yang dilantik.  Mewakili walikota, Cecep menerima Seragam Pengurus Daerah Pewarna Indonesia sebagai cinderamata. "Kehadiran Pewarna Jawa Barat bisa memgawal kerukunan di seluruh kota dan kabupaten di propinsi Jabar", harap Cecep. Ia juga mengungkapkan kehidupan toleransi antar warga kota Bekasi berjalan dengan baik berkat dilakukannya komunikasi pimpinan kota dan tokoh-tokoh masyarakat kota Bekasi. "Saya kira kedepannya kerjasama dengan kepengurusan Pewarna Cabang Kota Bekasi dalam menjaga kerukunan ini bisa dijalankan, cetus Cecep. 

Senada dengan kepala Kesbangpol, Pembimas Kristen kota Bekasi M.Manik SE, M.Th, menegaskan bahwa hubungan kerjasama yang erat antar tokoh umat beragama di kota Bekasi sudah berlangsung lama hingga kini. Pembimas Kristen memberi dukungan Pewarna Jabar melalui kerjasama dengan pewarna cabang kota Bekasi nantinya. "Peran PERS sangatlah penting dalam menyampaikan informasi yang dibutuhkan masyarakat, tegas Manik. 

Sementara Ketua umum Persatuan Wartawan Nasrani (PEWARNA) Indonesia
Yusuf Mujiono mengapresiasi panitia pelantikan Pengurus Daerah Jawa Barat yang terdiri dari unsur Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah DKI Jakarta dan Banten serta Ketua Pengurus Daerah Jabar dan calon pengurus yang telah belerja keras untuk suksesnya acara pelantikan. "Ditengah pandemi, dan krisis ekonomi, rekan-rekan Pewarna mampu bekerjasama mewujudkan agenda organisasi"tegas Yusuf yang juga pimpinan Grup Media Gaharu. Ia berharap semangat rekan-rekan pewarna tidak surut meski keadaan kurang menguntungkan, sebab sebagai Pewarta harus terus berkarya untuk mewarnai Indonesia. 
Usai pelantikan Pengurus Daerah Jawa Barat Pewarna Indonesia, penasehat Gunadi menyampaikan pesan moral kepada para pengurus. Rev. Gunadi mengingatkan sebagai Wartawan harus memiliki integritas dan bermoral tinggi. "Kebangkitan harus disertai dengan perbuatan dan karya nyata di masyarakat" pesannya. 

Turut hadir dalam kegiatan pelatikan Pewarna Jabar, para Ketua Ormas Kota Bekasi yaitu, FBR, Aliansi Ormas, GP. Ansor dan KNPI.

Related Posts:

Viktor Sirait : Infrastruktur Dan Tugas Panggilan Pelayanan Membangun Indonesia Maju

Catatan Kecil Menghormati Viktor Sirait


REFORMATANEWS.COM, Jakarta - Berduka Cita Mendalam atas wafatnya Ketua Umum DPP Bara JP : VIKTOR SIRAIT, pada hari Kamis, tanggal 18 Februari 2021, jam 03.30, di RS Cibinong. Sebuah "Kepergiaan" akibat serangan jantung dalam usia masih tergolong muda : 47 tahun. Berita duka ini sungguh-sungguh merupakan sebuah "Kepergian" yang mendadak dan mengejutkan kita semua tetutama yang mengenal almarhum.


Almahum Ir. Viktor Sirait adalah aktifis lurus dan tulus sejak kuliah dan lulus menamatkan studi dari kampus terbaik dan terkenal : Institut Teknologi Bandung (ITB). Seorang aktifis mahasiswa dan aktifis organisasi intra dan ekstra kampus pada zamannya. Bergumul dan bergelut serius, tekun, dan gigih dengan berbagai permasalahan dan tantangan zaman yang serba kompleks, dinamis, dan kompetitif. Proaktif terlibat melakukan pembelaan dan pendampingan rakyat pada masanya. 


Viktor Sirait adalah salah seorang pengusaha yang mandiri dan relatif berhasil. Kemandirian dan keberhasilan ini dilalui dengan penuh dinamika dan tantangan yang serba heroik. "DNA" kepribadian Viktor Sirait sebagai pengusaha, pada dasarnya selalu dan sungguh peduli dan bertanggungjawab untuk memajukan masyarakat dan membangun bangsa. Perihal ini dipraxiskan melalui tugas panggilan pelayanan profesi yang dijalaninya dan ditekuninya. Intinya adalah sebuah profesi yang bersentuhan dengan infrastruktur dan sejumlah pembangunan terkait lainnya.


Viktor Sirait memilih secara sadar dan dengan confirm atas pilihannya tersebut. Kemudian berdiri tegak dan lurus meyakini pilihannya dan terpanggil untuk segera membumikan sistem nilai perjuangan atas pilihannya tersebut. Viktor Sirait membumikan secara profesional dan dengan analitis bahwa pembangunan kohesivitas infrastruktur, penataan kapasitas sumber daya, penyiapan kualitas kader (SDM), peningkatan relasi-jaringan, percepatan dan pemudahan pelayanan, pada dasarnya mengandung dan memiliki sistem nilai. Ini adalah serangkaian jalan pengabdian dan saluran pelayanan yang mesti ditempuhnya secara serius dan efektif demi membangun dan menumbuhkan nilai-nilai perjuangan dan pengabdian.


Viktor Sirait bersama kawan-kawannya mentransformasi nilai-nilai dan sistem nilai ini ke "wilayah, ke ranah, ke tingkat, ke kawasan" yang lebih luas, yaitu INDONESIA yang berideologi Pancasila dan Berbhinneka Tunggal Ika dalam wadah NKRI. Hingga pada akhirnya, Viktor Sirait bersama kawan-kawannya mendirikan dan mengorganisasikan komunitas relawan Bara JP untuk bersama-sama puluhan ribu, ratusan ribu bahkan jutaan elemen dan komunitas lain mendukung dan memenangkan JOKOWI menjadi Presiden RI saat Pilpres tahun 2014 dan tahun 2019. 


Viktor Sirait adalah salah seorang yang terkemuka dan terdepan di barisan komunitasnya yang menggerakkan keseluruhan sumber daya, potensi, dan jaringan yang dimiliki. Penggerakkan ini diorientasikan dan diabdikan untuk memajukan masyarakat dan membangun bangsa Indonesia. Penggerakkan ini tentu dengan baik dan benar serta secara obyektif, kritis, positif, dinamis, kompetitif, efektif, inovatif, dan produktif. S


Kandungan pemikiran dan muatan pengabdian Viktor Sirait bagi masyarakat, bangsa, dan negara, pernah terlontar dalam sejumlah dialog dan diskusi kami. Pernah ada sekelumit kecil dialog kami bersama Viktor Sirait suatu saat di pertengahan tahun 2000-an (2005). Ketika itu, saya sebagai salah seorang anak buah dan anggota staf dari Ketua Umum PDI Perjuangan MEGAWATI SOEKARNOPUTRI, yaitu saya sebagai salah seorang Ketua DPP PDI Perjuangan, meminta kepada Viktor Sirait menjadi salah seorang fungsionaris Departemen yang saya bidangi di DPP PDI Perjuangan. 


Viktor Sirait yang memang sejak awal sebelumnya sudah menyatakan keinginan untuk bergabung menjadi fungsionaris Departemen di DPP PDI Perjuangan, pada gilirannya ditugaskan menjadi salah seorang fungsionaris Departemen. Malahan sempat proaktif terlibat selama beberapa waktu. Kemudian memohon maaf dan memohon ijin kepada saya untuk selanjutnya akan kurang aktif dalam kegiatan departemennya. Bersama Viktor Sirait, ada sejumlah fungsionaris departemen DPP PDI Perjuangan di bidang saya yang merupakan anggota dan kader PDI Perjuangan, dengan asal latarbelakang dari berbagai kalangan : profesional, akademisi, politisi (Anggota DPR-RI), kalangan aktifis ideologis dan berpengaruh terutama dari ormas strategis dan besar, khususnya mantan pimpinan dan aktifis ormas kemahasiswaan ekstra kampus yang tergabung dalam komunitas "Kelompok Cipayung". Ada GMNI, GMKI, HMI, PMII, PMKRI.


Saat itu Viktor Sirait amat sibuk dengan kegiatan profesinya di bidang ekonomi dan bisnis bahkan sampai sering keluar kota. Juga mungkin karena Viktor Sirait memiliki passion yang lebih cocok dengan profesi pengusaha dan memilih tumbuh berkembang dalam lingkungan profesi pengusaha. Meskipun pada akhirnya kurang aktif terlibat secara fisik di partai dan dalam sejumlah kegiatan "politik" lainnya, namun Viktor Sirait senantiasa tampil sebagai figur dan kader bangsa yang "ideologis", sama sekali tidak praktis pragmatis. Juga selalu tampil sebagai yang sosok dan SDM yang "Merah Putih", sama sekali tidak partikular primordial sektarian. Viktor Sirait berjalan dengan lingkungan pergerakan dan bergerak dalam suasana perjuangan rakyat. Spritualitas perjuangan ini diletakkan dalam perspektif untuk bergotongroyong memajukan masyarakat dan membangun bangsa Indonesia. 


Viktor Sirait sampai akhir hayatnya memiliki sifaf dan sikap kepribadian yang cerdas, sederhana, santun, bersahaja, tegas, berani, terbuka, arif dan bijak, peduli, berkomitmen, bersosial, responsif, dan sebagainya yang baik dan bajik. Saya pernah meminta sebuah buku kepada Viktor Sirait saat Pilpres tahun 2014. Buku tersebut merupakan buku baru yang sedang dibawanya, yang isinya bermuatan pengulasan dan pembahasan mengenai rekam jejak, prestasi, keberhasilan, dan keunggulan Jokowi (lulusan UGM), Yogyakarta.


Saya juga sesungguhnya sudah memiliki buku yang sama judul dan isinya tetapi saya sedang tidak membawanya saat itu. Padahal saya sudah merencanakan untuk segera menyampaikannya sebagai ole-ole akademik dan bahan bacaan bermanfaat kepada Dubes Indonesia untuk Belanda saat itu Retno Marsudi (lulusan Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM, dan kini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI). Dubes Retno Marsudi rencana berangkat dari Jakarta ke Belanda dengan penerbangan pesawat malam hari, sehingga menunggu beberapa waktu di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten. Saya masih ada sejumlah kegiatan sore sampai malam saat itu, sehingga buku "Jokowi" tersebut diantar ke bandara oleh seorang aktifis profesional dan fungsionaris komunitas Keluarga Alumni UGM (KAGAMA) Yogyakarta bernama Rinina (lulusan Jurusan Hubungan Internasional FISIPOL UGM). Dan kemudian buku tersebut diserahkan kepada Dubes Retno Marsudi yang sedang menantinya di bandara sembari menunggu keberangkatan pesawat ke Belanda. Buku tersebut sesungguhnya adalah tinggal satu-satunya buku terbatas yang dimiliki Viktor Sirait namun rela bersedia memberikannya kepada saya. Pemberian ini semakin menjadi bermakna karena berlangsung dalam waktu singkat dan dalam suasana darurat keberangkatan jauh. 

Victor Sirait, selain sebagai pengusaha, juga sedang menunaikan Tugas Pengabdian Kenegaraan sebagai Komisaris di BUMN Waskita Karya di bawah koordinasi tehnis fungsional Kementeriaan PUPR RI. Tengah menunaikan amanah dan kepercayaan menjadi Ketua Umum DPP Bara JP. Pernah menjadi salah seorang Pengurus Pusat GMKI. Dan masih banyak lagi kegiatan dan tugas panggilan pelayanan lainnya demi untuk Membangun Indonesia Maju.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa Melindungi dan Memberkati keluarga yang ditinggalkan. Juga diberi penguatan, penghiburan, dan pengharapan oleh Tuhan
Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selamat Jalan Ir. Viktor Sirait. Tuhan Yang Memberi dan Tuhan Yang Mengambil. Rest In Peace. Amin.


Penulis : 
Firman Jaya Daeli.

Related Posts:

Perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek Nasional 2572 Kongzili

REFORMATANEWS.COM, Jakarta - Tahun Baru Imlek 2572 Kongzili (anno Khonghucu) pada tahun ini jatuh bertepatan dengan tanggal 12 Februari 2021 Masehi. Tahun Baru Imlek secara spiritual merupakan momen untuk membenahi dan memperbaharui diri, kembali ke fitrah manusia yang bersih dan suci, karena watak sejati manusia merupakan derivatif dari nilai-nilai Kebajikan Tian, Tuhan YME.

Puji syukur ke Hadirat Tian, Tuhan Yang Maha Esa, bahwa pada hari Minggu, 14 Februari 2021, untuk ke 22 (dua puluh dua) kalinya, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) kembali akan menyelenggarakan Perayaan Hari Raya Tahun Baru Imlek Nasional, terhitung sejak Perayaan pertama, 17 Februari 2000, di era Presiden Republik Indonesia ke - 4, KH. Abdurrahman Wahid.

Perayaan Imlek di Indonesia tahun ini suasananya berbeda, prihatin karena pergerakan pandemi Covid 19 di negara kita masih terus menaik, tanpa bisa diperkirakan secara akurat kapan akan mulai menurun ditambah dengan kabar duka akibat bencana yang menimpa beberapa daerah di Indonesia. Karena pandemi Covid 19 pulalah maka perayaan Hari Raya Tahun Baru 2572 Kongzili secara nasional kali ini tidak dirayakan secara besar-besaran, melainkan secara virtual yang bertajuk:

“DOA UNTUK INDONESIA” 
“Bahaya Yang Datang Oleh Ujian Tian Dapat Dihindari, 
Tetapi Bahaya Yang Dibuat Sendiri Tidak Dapat Dihindari’”
Mengzi IIA : 4.6 

melalui:
Live Streaming, Youtube MATAKIN Pusat
Minggu, 14 Februari 2021
10.00 WIB s.d 13.00 WIB

Tema tersebut mengingatkan kita untuk selalu mawas diri, hidup selaras dengan alam dan senantiasa berbuat kebajikan. Tuhan tidak akan memberikan ujian kepada manusia di luar batas kemampuannya. Menjaga dan merawat kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan dalam masa pandemi (3M: Memakai masker, Mencuci tangan, Menjaga jarak) sambil berolahraga dan memakan asupan bergizi dalam agama Khonghucu adalah salah satu wujud bakti (Xiao).

Jikalau ada ujian dari Tuhan, baik berupa bencana alam banjir, gempa  penyakit dll, niscaya manusia bisa menangani, mengatasi. Namun kalau bencana itu terjadi atau berlarut karena kebodohan atau kecerobohan manusia itu sendiri, itu yang lebih sulit diatasi. Seperti dalam Zhong Yong XVI.3 : "Demikianlah Tuhan menjadikan segenap wujud, masing-masing dibantu sesuai sifatnya : kepada pohon yang bersemi dibantu tumbuh, sementara yang condong dibantu roboh."

Maka melalui perayaan ini MATAKIN mengajak kita semua untuk bersama-sama berdoa dengan harapan Tian, Tuhan YME memberikan kekuatan dan sekaligus membuka kesadaran agar manusia mau berbenah diri, mengoreksi diri dan hidup rukun harmonis untuk bersama-sama mengatasi setiap masalah sehingga semua bencana ini dapat segera teratasi dan Indonesia kembali pulih sejahtera, jaya raya.

Related Posts:

Putra Nababan: SKB 3 Menteri Teguhkan Komitmen Toleransi

REFORMATANEWS.COM, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Putra Nababan menilai kehadiran SKB 3 Menteri tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut Bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan berguna untuk meneguhkan komitmen kebangsaan yang sudah dibangun pendiri bangsa ini. “Kalau kita lihat dari SKB 3 Menteri tidak lain untuk mengembalikan makna toleransi yang sempat bergeser ke arah intoleransi,” ujar Putra dalam Webinar Pewarna Indonesia dengan topik “SKB 3 Menteri: Memupuk Asa Toleransi di Sekolah, Jumat (12 Februari 2021).   

Untuk itu, Putra mendorong semua pihak agar kasus yang menimpa seorang siswa perempuan yang menolak penggunaan busana dari agama tertentu kepada siswa beragama lain tidak terulang lagi. “Dari sini bisa dilihat bahwa proses pendidikan di negeri ini belum optimal membentuk warga negara yang dapat mewujudkan suatu keadaban bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta belum mampu mengkreasi manusia Indonesia seutuhnya,” imbuhnya.

Putra juga meminta agar semua pemangku kepentingan di dunia pendidikan meneladani pendiri bangsa yang tidak pernah mengedepankan mayoritas atau dari sisi jumlah dalam menyatukan bangsa. “Ini adalah warisan kita, modalitas yang kita miliki saat ini. Hal-hal yang asing dari luar jangan dibawa-bawa. Intoleran, tidak gotong royong, individualis, itu hal-hal asing,” tegasnya.

Putra bangga bahwa komitmen toleransi ini justru diajarkan oleh Jeni Cahyani, siswi kelas X SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat yang menolak menggunakan jilbab karena bukan beragama Islam. “Saya bangga sekali punya generasi muda seperti dia dan itu dilindungi undang-undang. Dia mengajarkan kita semua untuk berani menyampaikan apa yang menjadi kesepakatan para founding fathers negara ini,” tutur Putra. 

Menurut Putra, membangun nilai-nilai kebangsaan dan sikap toleransi melalui pendidikan harus terus diperjuangkan. Apalagi belakangan ini, tambahnya, tindakan intoleransi dan bahkan menjurus kepada eksterimisme cukup marak terjadi di negeri ini. “Benih intoleransi muncul karena berbagai faktor, salah satunya tingkat pemahaman nilai kebangsaan yang sempit maupun penanaman nilai agama yang ekslusif di sekolah,” paparnya.

Putra pun mendorong agar lebih banyak lagi siswa yang menyampaikan pendapat apabila gurunya tidak sadar atau pura-pura tidak sadar atau belum pernah baca undang-undang, tentang betapa toleransi sangat penting diwujudnyatakan. “Nggak apa-apa, guru diajari murid juga boleh. Nggak harus selalu feodal bahwa guru mengajari murid. Di era sekarang, murid juga bisa memberi feedback kepada guru,” katanya. (Rik)

Related Posts: